Buruh
migran Indonesia (BMI) mulai datang bekerja di Hong Kong pada tahun 1985. Pada awalnya
jumlah BMI sangatlah rendah, hingga kemudian pada tahun 1990 jumlahnya terus meningkat.
Berdasarkan data Imigrasi Hong Kong, pada tahun 1998 terdapat kurang lebih 35,000
orang BMI, dan jumlah tersebut melonjak drasti sehingga mencapai angka 85,000
orang pada tahun 2004. Namun demikian, pada tahun-tahun tersebut angka tersebut
masih terbilang lebih rendah dibandingkan dengan angka buruh migran asal
Filipina. Sungguh mencengangkan, terhitung sejak tahun 2012 hingga saat ini angka
buruh migran asal Indonesia telah melampaui angka buruh migran asal Filipina,
dimana jumlah tersebut telah mencapai
160,000 orang
(sumber: Imigrasi Hong Kong 2014).
Hong
Kong merupakan negara tujuan yang paling
diminati oleh buruh migran asal Indonesia, mengingat bahwa Hong Kong merupakan satu-satunya
negara di Asia yang mengakui buruh migran pekerja rumah tangga (PRT) sebagai buruh,
dimana undang-undang perburuhan setempat memberikan perlindungan kepada semua pekerja
asing termasuk mereka yang bekerja pada sektor informal. Oleh karenanya, BMI
mempunyai hak atas upah minimum sesuai dengan ketentuan yang berlaku
(HKD 4010 per bulan), mendapatkan hari libur mingguan, cuti tahunan, cuti hamil
dan diberikan kebebesan untuk berorganisasi
dan berserikat.
Kendati
undang-undang perburuhan Hong Kong terbilang cukup adil, pada kenyataannya BMI masih saja menghadapi banyak persoalan. Baik
persoalan perburuhan hingga persolan keamanan, kesehatan dan juga praktik-praktik
pemerasan dari para pihak – dari sejak mereka
masih berada di tanah air, saat bekerja di Hong Kong hingga ketika kembali ketanah
air.
Tidak hanya persoalan peburuhan dan kekerasan, BMI pun tak luput dari obyek para pemodal dan pengusaha – baik pengusaha asal Hong Kong ataupun Indonesia. Mereka menawarkan berbagai produk dari makanan, pakaian, hingga peralatan elektronik seperti HP, Komputer dan Ipad – dan mengajarkan budaya konsumerisme kepada BMI. Iklan dan promosi yang memang menjadikan BMI sebagai sasaran pasar begitu gencar dilakukan untuk memikat hati para pengais devisa asal Indonesia.
Entah
disadari atau tidak, keberadaan BMI di Hong Kong telah memberikan konstribusi
yang luar biasa terhadap perekonomian negara pengirim dan penerimanya.Melalui remitansi
yang dikirim kepada keluarga di
Indonesia, BMI telah turut serta menjadi mitra pembangunan perekenomian bangsa karena yang remitensi tersebut telah memampukan anak-anak BMI untuk
mengenyam pendidikan tinggi, anggota keluarga menjadi mempunyai suntikan modal usaha, membayar biaya kesehatan dan kesejahteraan
sosial lainnya. Melalui komsumsi langsung
selama tinggal dan bekerja di Hong Kong, BMI telah turut serta menyumbang perekonomian Hong Kong. Melalui jasa yang
telah mereka berikan kepada keluarga-keluarga
di Hong Kong, memungkinkan para majikan
(dalam hal ini terutama perempuan) untuk dapat turut serta terlibat bekerja pada
sektor publik.Tanpa adanya BMI yang menggantikan peran mereka untuk mengerjakan
pekerjaan domestik tidak mungkin majikan akan
tenang bekerja di luar dengan meninggalkan bayi, anak dan orang tua jompo yang memerlukan perhatian setiap
saat. Lebih jauh, barang-barang impor dari Indonesia pun banyak di datangkan ke Hong Kong
untuk memenuhi kebutuhan para BMI.
Sepanjang
perputaran migrasi BMI di Hong Kong – begitu banyak BMI yang awalnya bersemangat
untuk kembali ketanah air untuk selamanya terlihat kemudian beberapa tahun kemudian
telah kembali bekerja di Hong Kong. Bahkan mereka yang mengaku telah merintis usaha
kecil di Indonesia saat kembali ke tanah air, juga ditemukan telah kembali lagi
mencari kerja sebagai PRT di Hong Kong. Fenomena ini rasanya sangat menarik
untuk lebih jauh di kaji, ada apa sebenarnya di Indonesia hingga BMI - BMI
tersebut kembali lagi ke Hong Kong. Dimana masalahnya dan mengapa?...Ini adalah
pertanyaan yang sering kali sulit mencari jawaban tepatnya.
Setelah
ditelisik dari pengakuan para BMI yang
sempat kami temui, ternyata umumnya mereka mengatakan betapa susah untuk mencari
uang di Indonesia walaupun sudah punya usaha, karena tidak laku dan gulung tikar
alias Bangkrut. Terkadang mereka bisa memproduksi tapi tidak bisa menjual karena
tidak ada pasar dan tidak punya Jaringan dan mitra bisnis. Belum lagi dengan lingkungan
yang tidak mendukung untuk menjalankan bisnis karena etos kerja yang berbeda,
dimana BMI mantan Hong Kong umumnya suka bekerja keras dan cepat menjadi kesulitan
ketika harus berhadapan denganp engusaha
lokalan yang cenderung lambat.
Atas dasar Keprihatinan itu, maka kami yang
tergabung dalam HIMPUSMMI merasa perlu untuk membangun pengembangan usaha bagi para BMI yang saat ini masih aktif bekerja di
Hong Kong. BMI yang masih aktif dengan gaji bulanan yang mereka peroleh dapat bersama-sama
membangun usaha di berbagai sektor. Sudah tentu jika ini dilakukan secara
individual akan sulit, namun jika para BMI bersatu dan melakukannya bersama-sama
dan membangun visi yang sama maka kita akan bisa. Semua bisa kita lakukan!
Untuk
itu lah HIMPUSMMI kemudian lahir dengan satu cita-cita mulia yaitu ingin berjuang membangun dan mewujudkan
kemandirian ekonomi para BMI Indonesia
untuk mencapai
kesejahteraan
BMI dan anggota keluarganya. HIMPUSMMI berdiri pada tanggal 1 oktober 2014 dan saat ini telah berangotakan
sebanyak ____ orang BMI aktif.
VisidanMisi
:
- 1.Menciptakan lapangan pekerjaan bagi BMI dan Anggota
keluarganya dan masyarakat pada umumnya
- 2.Untuk mewujudkan
Kemandirian Ekonomi bagi BMI dan Anggota keluarganya
- 3.Menciptakan BMI yang berjiwa Entrepreneur dan berkreativitas
di Era Globalisasi
- 4.Mempersatukan BMI dalam mewujudkan Ekonomi BMI
yang Mandiri
- 5.Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang tangguh di
Era Globalisasi
PROGRAM :
- 1.Memperkuat
persatuan anggota dan mengembangkan keanggotaan untuk menjadi lebih besar
dan kuat.
- 2. Iuran anggota HK $. 5/bln yang uangnya bisa di
kembangkan/kita kelola untuk Usaha di Indonesia dengan Mitra kerja termasuk
kawan-kawan Bmi yang sudah siap pulang ke tanah air untuk membuka usaha di
Indonesia
- 3. Mensosialisasikan HIMPUSMMI dan PT BMI(Bumi Mitra
Indonesia Satu-satunya PT yang Pemodalnya adalah Buruh Migran Indonesia Juga) sebagai Mitra kerjasama sebagai Penyalur/Pengekspor
Produk dari hasil BMI Purna dan Usaha
Kecil Menengah termasuk Home Industri
- 4. Menyelenggarakan pelatihan, seminar dan lokakarnya
terkait dengan pengembangan usaha dan jiwa kewirausahaan.
- 5, Melakukan Pendampingan dalam kegiatan UMKM yang sifatnya
bisa menunjang kemajuan dan kemandirian Buruh Migran Indonesia dalam mengembangkan usahanya
Untuk lebih jelasnya bisa hubungi :
Wulan,
9511 74844, Bunda Mia, 9255 6699, Fitri,
9201 9554
Tidak ada komentar:
Posting Komentar